Sabtu, 22 September 2018

TUTORIAL INSTALL DNS SERVER DENGAN DEBIAN 9

Pengertian DNS server
DNS adalah sebuah layanan untuk menyediakan penerjemaan alamat IP menjadi nama yang muda diingat. DNS menyediakan penerjemaan dua arah, dari IP menjadi nama atau dari nama menjadi IP.
Cara kerja DNS server
            DNS server menyimpan kamus dari IP menjadi nama atau sebaliknya. Pengguna melakukan permintaan terhadap DNS server dengan mengirimkan nama alamat yang dituju. DNS server lalu mengembalikan kepada pengguna tersebut alamat IP yang dituju.

Langkah – langkah menginstal debian:
·        Pertama buka oracle VM virtualbox


·        Selanjutnya login menggunakan root

·        Skrip untuk mengistal DNS server yaitu apt-get install bind9, Paket untuk mengecek NS lock menggunakan NS lock up yaitu dnsutlis, lalu tekan enter

·        Tekan Y

·        Setelah itu ada perintah untuk memasukkan DVD binary 1, pilih perangkat , optical drives,lalu debian-.00-amd64-DVD-1.iso

·        Tekan enter
·        Lalu ada perintah lagi untuk memasukkan DVD binary 2, pilih perangkat, optical drives, lalu debian-.00-amd64-DVD-2.iso tekan enter.

·        Setelah installasi ini berhasil kita cek hasil instalasinya di cd /etc/bind lalu enter
=
·        Lalu kita edit file yang bernama nano named.conf lalu tekan enter
=
·         Tetukan lokasi file dengan menambahkan skrip zone “muid.com” (nama kalian masing-masing)
=
·         Tekan enter lalu ketik type master
=
·         Dibawahnya ada file dimana kita meletakkan file forwat “/var/cache/bind” lalu tekan enter dengan nama db. muid
=
·         Lalu masukkan ip kalian di kep pertama tetapi dari belakang 19.168.192.in-addr.arpa bawahnya ketik type master



·         Lalu letakkan di directory yang sama “/var/cache/bind/db.192” klik enter



·        Lalu kita copy file de fault forwat dan reterse yaitu file de faul forwat yang bernama db. Local  kita di directory “/var/cache/bind/db.muid



·         Kita copy juga file reterse yang bernama  dp.127 di directory “var/cache/bind/db.192”



·         Setelah kita melakukan copy kita pindah ke directory /var/cache/bind




·        Kita edit file forwat dengan nama db.muid



·         Kita rubah localhost menjadi nama domain kitamuid.com”


·         Dan juga ip menjadi 192.168.19.1



·         Kita tambahkan domain utama dengan www IN A ip server 192.168.19.1



·         Lalu edit fil reterse dengan nama db.192



·         Kita rubah juga localhost menjadi nama domain kita muid.com”



·         Dan 1.0.0 kita rubah menjadi angka terakhir dari ip kita 1


·         Setelah selesai kita restart layanan DNS server dengan cara /etc/init.d/bind9 restart tekan enter


·        Kita edit file nano /etc/resolv.conf klik enter


·         Untuk mendaftarkan domain kita nameserver 192.168.19.1, domain


·        muid.com, searchmuid.com
·        

·         
·         Kita uji DNS server kita apakah sudah berhasil yaitu nslookupmuid.com dan ip server 192.168.19.1


·        Ketika sudah berhasil jangan lupa menambahkan sub domainnya yaitu kita edit lagi file forwat kita nano dbmuid.com
·        

·         
·         Tambahkan sub domainnya tkj IN A 192.168.19.1
·        

·         
·         Dan tambahkan juga skenda IN A 192.168.19.1
·        

·         
·         Jangan lupa juga mengedit file retersenya nano db.192
·        

·         
·         Kita tambahkan juga angka terakhir 1 IN PTR yaitu tkj.muid.com
·        

·         

·         Kita tambahkan lagi 1 IN PTR yaitu skenda.muid.com
·        

·         
·         Kita cek di client apakah DNS nya sudah berhasil
·        

·         
·         Jangan lupa untuk merestart layanan bind 9 lagi yaitu d/bind9 restart
·        

·         
·         Setelah itu kita buka CMD
·        

·         
·        Kita coba dengan ns lookupmuid.com
·        

·         
·        Lalu ns lookup tkj.muid.com
·        

·         
·         Lalu ns lookup skenda.muid.com
·        

·         
·         Ketik ns lookup 192.168.19.1
·        

·         
·         Kita cek juga menggunakan pingmuid.com
·        

     
·         Jika sudah muncul reply maka sudah berhasil




Kamis, 06 September 2018

setting peer to peer

Membuat Jaringan WiFi Access Point -Repeater WDS Menggunakan TP-Link
Dalam praktek kali ini, kita akan membuat jaringan Wifi Access Point (AP)-Repeater WDS menggunakan TP-Link TL-WA801ND. Secara detail, koneksi jaringan ditunjukkan seperti gambar topologi di atas.
Perangkat yang digunakan adalah 2 (dua) buaah Access Point TL-WA801ND, Switch 8 port, PC desktop, Laptop, dan kabel UTP straight secukupnya. Langkah-langkah prakteknya, ikuti tahapan-tahapan berikut ini.

A. KONFIGURASI ACCESS POINT UTAMA

Menghubungkan Access Point dengan PC/Laptop
Access Point (AP) yang dimaksud di sini adalah AP yang akan digunakan sebagai jaringan Wifi Utama untuk memancarkan sinyal/internet ke segala arah. Selanjutnya, sinyal tersebut akan diterima langsung oleh laptop client atau didistribusikan ulang AP Repeater WD agar dapat menjangkau jaringan yang lebih luas.
Sebelum mengkonfigurasi AP, terlebih dahulu kita hubungkan AP dengan PC atau laptop yang akan digunakan untuk mengkonfigurasi AP. Masukkan salah satu konektor kabel UTP straight pada port Ethernet di AP, dan konektor UTP lainnya masukkan ke port LAN card di PC/laptop.



Mengatur IP Address PC/Laptop

Atur IP address laptop agar satu jaringan dengan IP default Access Point. IP default AP TP-Link TL-WA801ND adalah 192.168.0.254, sehingga kita bisa mengganti IP address laptop misalnya menjadi 192.168.0.1. Atau, kita bisa manfaatkan service DHCP server yang secara default sudah aktif pada AP sehingga kita tidak perlu susah-susah lagi mengatur IP addres laptop, cukup dengan memilih opsi Obtain, maka nanti laptop secara otomatis akan mendapatkan IP address dari AP. Untuk pengaturan IP address pada laptop, klik tombol Start >> Control Panel >> Network and Internet >> Network and Sharing Center >> Change adapter settings. Maka akan ditampilkan window berikut:


Selanjutnya klik kanan pada interface Local Area Connection >> Properties >> Internet Protocol Version 4 (TCP/IPv4) >> Obtain an IP address automatically >> Obtain DNS server address automatically >> OK >> OK


Pastikan laptop kita sudah mendapatkan IP address DHCP dari AP kita dengan mengkilik tombol Detail



Konfigurasi Wireless

Jika sudah dirubah IP address PC/laptop, akses kembali AP menggunakan web browser dengan mengetikkan 20.20.100.254 pada address bar. Dalam konfigurasi wireless ini, kita akan mensetting SSID, yaitu nama jaringan wireless (nama Wifi) yang nanti akan diakses oleh PC client wireless. Selain itu, di menu ini juga dilakukan pengaturan keamanan wireless, sehingga apabila client hendak konek ke jaringan Wifi ini, maka terlebih dahulu harus memasukkan password wirelessnya. Langkah-langkah konfigurasi Wireless AP adalah klik menu Wireless >> Wireless Settings >> Operation Mode = Access Point >> Wireless Network Name = ketikkan Wifi_Siswa (hanya contoh), >> Save. Konfigurasi detailnya seperti gambar berikut.



Selanjutnya klik sub menu Wireless Security. Di sini kita mengatur password untuk otentikasi bagi setiap PC client yang akan terhubung ke jaringan wireless. Pilihlah opsi keamanan WPA/WPA2-Personal (Recommended) yang merupakan tingkat keamanan wireless paling baik. Masukkan passwordnya minimal 8 digit, lalu Save.


Menghubungkan AP ke Switch/Modem

Pindahkan konektor UTP straight yang terhubung di laptop ke port Modem atau ke Switch, seperti gambar topologi di atas, sehingga sekarang AP terhubung ke Modem atau Switch melalui kabel UTP straight.

Menguji koneksikan PC Client/Laptop ke Jaringan Wifi

Setelah proses reboot AP selesai dan AP telah diubungkan ke Modem/Switch, selanjutnya kita uji koneksi PC client/laptop ke AP melalui wireless. Aktifkan dahulu perangkat wireless laptop. Lalu cari SSID yang sudah kita buat sebelumnya. Caranya, dari Taskbar, klik ikon Wireless >>Wifi_Siswa>> Connect. Pada Security key ketikkan passwordnya yaitu 12345678 >> OK.

Selanjutnya perhatikan status wireless apakah sudah konek ke jaringan internet atau belum. Jika tampilan sudah seperti gambar berikut, maka koneksi ke internet sudah berjalan.

Buka browser kembali, ketikkan alamat di internet untuk mengakses alamat website, misalnya https://habibahmadpurba.worpress.com. Jika bisa mengakses halaman web seperti berikut ini, berarti konfigurasi AP utama sudah berhasil kita lakukan. Selanjutnya kita akan mengkonfigurasi AP Repeater WDS, yang akan memperluas dan mendistribusikan sinyal internet yang diperoleh dari AP utama.

KONFIGURASI ACCESS POINT REPEATER WDS

Menghubungkan AP Repeater dengan PC/Laptop

Hubungkan sebuah PC/laptop yang mengkonfigurasi ke AP Repeater WDS dengan menggunakan kabel UTP straight.

Mengatur IP Address PC/Laptop

Atur IP address laptop agar satu jaringan dengan IP default Access Point. IP default AP TP-Link TL-WA801ND adalah 192.168.0.254, sehingga kita bisa mengganti IP address laptop misalnya menjadi 192.168.0.1. Atau, kita bisa manfaatkan service DHCP server yang secara default sudah aktif pada AP sehingga kita tidak perlu susah-susah lagi mengatur IP addres laptop, cukup dengan memilih opsi Obtain, maka nanti laptop secara otomatis akan mendapatkan IP address dari AP. Untuk pengaturan IP address pada laptop, klik tombol Start >> Control Panel >> Network and Internet >> Network and Sharing Center >> Change adapter settings. Maka akan ditampilkan window berikut:

Selanjutnya klik kanan pada interface Local Area Connection >> Properties >> Internet Protocol Version 4 (TCP/IPv4) >> Obtain an IP address automatically >> Obtain DNS server address automatically >> OK >> OK.

Pastikan laptop kita sudah mendapatkan IP address DHCP dari AP kita dengan mengkilik tombol Detail

Konfigurasi Access Point (TP-Links TL-WA801ND) sebagai Repeater WDS

Selanjutnya kita akan mengakses AP menggunakan IP address defaultnya. Di sini diasumsikan bahwa AP sudah direset sehingga konfigurasinya adalah default. Dalam keadaan default, IP address AP TP-Links TL-WA801ND adalah 192.168.0.254 dan DHCP servernya sudah berjalan. Buka browser, pada address bar, ketikkan “192.168.0.254” (tanpa tanda petik). Pada tampilan otentikasi, ketikkan admin pada masing-masing kolom User Name, dan Password >> Log In.

Selanjutnya tampil halaman Operation Mode. Di halaman inilah kita akan mengatur agar AP diset sebagai Repeater. Untuk itu pilih opsi Repeater (Range Extender) >> Next.

Berikutnya tampil halaman Wireless Setting. Pada Repeater Mode ini, pilih opsi WDS Repeater. Pilihan ini memungkinkan agar AP Repeater kita nanti dapat memperluas coverage jaringan wireless tanpa harus terhubung menggunakan kabel UTP secara langsung ke Switch. Selanjutnya klik tombol Survey untuk mencari jaringan Wireless yang tersedia di area kita. Pada halaman AP List akan terlihat jaringan Wireless yang dapat dilihat menggunakan AP Repeater WDS kita. Karena sebelumnya kita sudah membuat SSID pada AP utama, maka klik tombol Connect pada SSID Wifi_Siswa. Kembali ke halaman Wireless Setting, secara otomatis akan terisi MAC Address AP utama pada kolom MAC Addess of Root. Jika tidak terisi otomatis, maka isilah secara manual. Untuk kolom Region, isi sesuai Region pada AP utama. Pada kolom Wireless Security Mode, isikan sesuai mode security di AP utama, biasanya juga sudah terisi otomatis. Kemudian pada kolom Wireless Password, masukkan password seperti kode password Wireless Security yang dibuat pada AP utama, di sini kita menggunakan “12345678”. Selanjutnya klik tombol Next.

Selanjutnya tampil halaman Network Setting. Pada halaman ini kita akan menonaktifkan layanan DHCP Server dari AP Repeater kita, untuk itu klik opsi Disable pada bagian DHCP Server. Di halaman ini juga kita masukkan IP address LAN untuk AP Repeater. Walaupun dalam implementasinya dijaringan nanti kita tidak menggunakan kabel yang terhubung ke port Ethernet AP Repeater, tapi perlu juga kita set IP addressnya agar mudah dalam maintenance jika terjadi troubleshooting wireless dari AP Repeater kita. Untuk itu, pada kolom IP Address isikan IP address yang satu jaringan dengan Gateway Modem kita. Di sini kita isi, misalnya 168.5.101. Pada kolom Subnet Mask, isi 255.255.255.0. Selanjutnya pada bagian Change the login account, pilih opsi No, lalu klik tombol Next. Perlu dijelaskan, jika AP Repeater kita ingin aman dari akses orang yang tidak bertanggung jawab, sangat disarankan untuk memilih opsi Yes. Nanti kita akan diminta untuk mengganti nama User dan Password Admin default, seperti pada langkah 13 bagian A di atas.

Pada bagian terakhir, akan ditampilkan reporting konfigurasi yang sudah kita buat sebelumnya. Pastikan data-data yang sudah kita set sebelumnya sudah sesuai untuk topologi jaringan kita. Jika ada bagian yang tidak sesuai, kita bisa kembali ke halaman sebelumnya dengan memilih tombol Back. Di sini kita klik tombol Finish, karena data-datanya ditampilkan sudah sesuai.


Selanjutnya Reboot AP Repeater WDS agar hasil konfigurasi yang sudah kita buat segera aktif

Menguji Koneksikan PC Client/Laptop ke Jaringan Wifi

Setelah proses reboot AP selesai dan lepaskan koneksi kabel UTP dari laptop ke AP Repeater WDS. Selanjutnya kita uji koneksi PC client/laptop ke AP utama melalui AP Repeater WDS. Sebaiknya jarak antara AP utama dengan AP Repeater dibuat agak jauh, misalnya lebih 50 meter, agar coverage area wireless yang diakses oleh laptop client adalah wireless dari AP Repeater WDS, bukan langsung wireless dari AP utama. Selanjutnya, koneksikan laptop kita ke SSID yang sudah dibuat sebelumnya. Caranya aktifkan dahulu perangkat wireless laptop, lalu cari SSID yang sudah kita buat sebelumnya. Caranya, dari Taskbar, klik ikon Wireless >>Wifi_Siswa>> Connect. Pada Security key ketikkan passwordnya yaitu 12345678 >> OK.

Sampai di sini, konfigurasi AP utama dan AP Repeater WDS sudah selesai dan langsung bisa kita gunakan. Namun ada baiknya kita tes terlebih dahulu kesesuaian konfigurasi di AP utama dengan AP Repeater WDS. Caranya, dari address bar browser, ketikkan IP address AP utama, yaitu 192.168.5.100. Dan di tab yang baru, ketikkan juga IP addess IP address AP Repeater WDS, yaitu 192.168.5.101. Jika kedua alamat tadi bisa diakses, klik menu Status untuk melihat status Wired dan Wireless AP utama maupun AP Repeater WDS. Berdasarkan tampilan berikut, pada bagian Wired, data IP address dan MAC address kedua AP tidak boleh sama. Sementara pada bagian Wireless, semua datanya harus sama, kecuali pada bagian Operation Mode, dimana pada AP utama statusnya adalah Access Point, sedangkan pada AP Repeater WDS statusnya adalah WDS Repeater.

Demikianlah langkah-langkah tutorial akan membuat jaringan Wifi Access Point (AP)-Repeater WDS menggunakan TP-Link TL-WA801ND. Jika ada permasalahan dalam konfigurasi jaringan ini, maka proses diagnosa, troubleshooting dan perbaikan jaringan ini dapat ditelusuri sesuai dengan langkah-langkah tutorial ini. Atau, anda dapat mengisi komentar di bawah ini, juga bisa melalui email.

3.5 Menganalisis proses service dan event sistem operasi jaringan

Analisis proses service dan event sistem oprasi jaringan


Layanan pada Sistem Operasi Jaringan
Services on the Server of Network Operating System. Seperti telah dibahas pada postingan sebelumnya, sistem operasi jaringan atau Network Operating System (NOC) merupakan sebuah sistem operasi untuk mengkoordinasikan kegiatan dari beberapa komputer dalam sebuah jaringan. Sistem operasi ini tentu berbeda dengan sistem operasi seperti Windows, Mac OS, atau UNIX yang dirancang untuk single user untuk mengendalikan satu komputer. Sistem Operasi ini menyediakan fungsi khusus untuk :

    menghubungkan sejumlah komputer dan perangkat lainnya ke sebuah jaringan
    mengelola sumber daya jaringan
    menyediakan layanan
    menyediakan keamanan jaringan bagi multiple users

Umumnya, sistem operasi ini terdiri atas banyak layanan atau service yang ditujukan untuk melayani pengguna, seperti:

    layanan berbagi berkas (file sharing)
    layanan berbagi alat pencetak (printer sharing)
    DNS Service
    HTTP Service, dan sebagainya.

Di sisi server, layanan sistem operasi jaringan diantaranya:

1. Mail Server
Mail server yaitu layanan atau perangkat lunak program yang mendistribusikan file atau informasi sebagai respons atas permintaan yang dikirim via email, juga digunakan pada bitnet untuk menyediakan layanan serupa http://FTP.

2. DHCP Server
DHCP atau Dinamyc Host Configuration Protocol adalah sebuah layanan yang secara otomatis memberikan nomor IP kepada komputer yang memintanya. Komputer yang memberikan nomor IP inilah yang disebut sebagai DHCP server, sedangkan komputer yang melakukan request disebut DHCP Client.

3. Web Server
Web Server adalah layanan server yang berfungsi menerima permintaan HTTP atau HTTPS dari klien yang dikenal dengan web browser dan mengirimkan kembali hasilnya dalam bentuk halaman-halaman web yang umumnya berbentuk dokumen HTML. Salah satu server web yang terkenal di linux adalah Apache. Apache merupakan server web antar platform yang dapat berjalan di beberapa platform seperti Linux dan Windows.

Web Server juga merupakan sebuah komputer yang menyediakan layanan untuk internet. Server disebut juga dengan host. Agar anda dapat memasukkan web yang anda rancang ke dalam internet, maka anda harus memiliki ruangan terlebih dahulu dalam internet (hosting), ruangan inilah yang disediakan oleh server.

4. DNS Server
DNS atau Domain Name System adalah distribute database system yang digunakan untuk pencarian nama komputer di jaringan yang mengunakan TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol). DNS server berfungsi untuk menterjemahkan (mentranslasi) IP address sebuah server menjadi nama domain. DNS digunakan pada aplikasi yang terhubung ke Internet seperti web browser atau e-mail, dimana DNS membantu memetakan host name sebuah komputer ke IP address.

DNS dapat disamakan fungsinya dengan buku telepon. Dimana setiap komputer di jaringan Internet memiliki host name (nama komputer) dan Internet Protocol (IP) address. Secara umum, setiap client yang akan mengkoneksikan komputer yang satu ke komputer yang lain, akan menggunakan host name. Lalu komputer anda akan menghubungi DNS server untuk mencek host name yang anda minta tersebut berapa IP address-nya. IP address ini yang digunakan untuk mengkoneksikan komputer anda dengan komputer lainnya.

5. FTP Servers
FTP (File Transfer Protocol) server adalah layanan sistem operasi yang berfungsi untuk memberikan layanan tukar menukar file dimana server tersebut selalu siap memberikan layanan FTP apabila mendapat permintaan (request) dari FTP client.

FTP client adalah computer yang merequest koneksi ke FTP server untuk tujuan tukar menukar file berupa download, upload, rename file, deleting file, dll sesuai dengan permission yang diberikan oleh FTP server. Tujuan dari FTP server adalah sebagai berikut :

    sharing data
    menyediakan indirect atau implicit remote computer
    menyediakan tempat penyimpanan bagi user


3.6 Memahami cara penjadwalan proses 

Penjadwalan merupakan kumpulan kebijaksanaan dan mekanisme di ssistem operasi yang berkaitan dengan urutan kerja yang dilakkan sistem komputer. Penjadwalan bertugas memutuskan :
– Proses yang harus berjalan
– Kapan dan selama berapa lama proses itu berjalan.

Sasaran Utama Penjadwalan Proses
Optimasi kerja menurut kriteria tertentu 
Kriteria untuk mengukur dan optimasi kinerja penjadwalan : [Tan-92] [MIL-92]
– Adil (fariness)
– Efesiensi
– Waktu tanggap (response time)
– Turn Arround Time
– Throughtput

Adil (Fairness)
Adil adalah proses-proses diperlukan sama yaitu mendapatkan jatah waktu pemroses yang sama dan tak ada proses yang tidak kebagian layanan pemroses sehingga mengalami startvision. Sasaran pendjadwalan seharusnya menjamin tiap proses mendapat pelayanan dari pemroses yang adil.

Efesiensi
Efesiensi atau utilisasi pemroses dihitung dengan perbandingan (rasio) waktu sibuk pemroses. Sasaran penjadwalan adalah menjaga agar pemroses tetap dalam keadaan sibuk sehingga efesiensi mencapai maksimum. Sibuk adalah pemroses tidak menganggur, termasuk waktu yang dihabiskan untuk mengeksekusi program pemakai dan sistem operasi.

Waktu Tanggap (Response Time)
Waktu tanggap berbeda untuk :
– Sistem interaktif
– Sistem waktu nyata

Waktu tanggap pada sistem interaktif (Interaktif)
Waktu tanggap dalam sistem interaktif didefinisikan sebagai waktu yang dihabiskan dari saat karakter terakhir dari perintah dimasukkan atau transaksi sampai hasil pertama muncul dilayar (terminal). Waktu tanggap ini disebut terminal response time.

Waktu tanggap pada sistem waktu nyata(Real Time)
Pada sistem waktu nyata, waktu tanggap didefinisikan sebagai waktu dari saat kejadian (internal atau
eksernal) sampai instruksi pertama rutin layanan yang dimaksud dieksekusi, disebut event response
time. Sasaran pendjadwalan adalah meminimalkan waktu tanggap.

Turn Arround Time
Turn arround time adalah waktu yang dihabiskan dari saat program atau job mulai masuk ke system sampai proses diselesaikan sistem. Waktu yang dimaksud adalah waktu yang dihabiskan dalam sistem, diekspresikan sebagai jumlah waktu eksekusi (waktu pelayanan job) dan waktu menunggu, yaitu;
Turn Arround Time = waktu eksekusi + waktu tunggu
Sasaran penjadwalan adalah meminimalkan turn arround time.

Throughtput
Throughtput adalah jumlah kerja yang dapat diselesaikan dalam satu unit waktu. Cara untuk mengekspresikan throughput adalah dengan jumlah job pemakai yang dapat dieksekusi dalam satu unit/interval waktu. Sasaran penjadwalan adalah memaksimalkan jumlah job yang diproses per satu interval waktu. Lebih tinggi angka throughput, lebih banyak kerja yang dilakukan sistem. Kriteria-kriteria tersebut saling bergabung dan dapat pula saling bertentangan sehingga tidak dimungkinkan optimasi semua kriteria secara simultan. Contoh :
Untuk memberi waktu tanggap kecil memerlukan penjadwalan yang sering beralih diantara prosesproses itu. Cara ini meningkatkan overhead sistem dan mereduksi throughput. Kebijaksanaan perancangan penjadwalan melibatkan kompromi diantara kebutuhan-kebutuhan yang saling bertentangan. Kompromi ini bergantung sifat dan penggunaan sistem komputer.

5.2 Tipe-Tipe Penjadwalan
Terdapat tiga tipe penjadwalan berada secara bersama-sama pada sistem operasi yang kompleks, yaitu :
1. Penjadwal jangka pendek (short-tem scheduller)
2. Penjadwal jangka menengah (medium-term scheduller)
3. Penjadwal jangka panjang (long-term scheduller)

Penjadwal Jangka Pendek
Penjadwal ini bertugas menjadwalkan alokasi pemroses diantara proses-proses ready di memori utama. Sasaran utama penjadwal ini memaksimalkan kinerja untuk memenuhi satu kumpulan kriteria yang diharapakan. Penjadwal ini dijalankan setiap terjadi pengalihan proses untuk memilih proses berikutnya yang harus dijalankan.





Penjadwal Jangka Menengah
Setelah eksekusi selama suatu waktu, proses mungkin ditunda karena membuat permintaan layanan masukan/keluaran atau memanggil suatu system call. Proses-proses tertunda tidak dapat membuat suatu kemajuan selesai sampai kondisi-kondisi yang menyebabkan tertunda dihilangkan.

Agar ruang memori dapat bermanfaat, maka proses dipindah dari memori utama ke memori sekunder agar tersedia ruang untuk proses-proseslain. Kapasitas memori utama terbatas untuk sejumlah proses aktif. Aktivitas pemindahan proses yang tertunda dari memori utama ke memori sekunder disebutswapping.

Penjadwal jangka menengah adalah menangani proses-proses swapping. Proses-proses mempunyai kepentingan kecil saat itu sebagai proses yang tertunda. Tetapi, begitu kondisi yang membuatnya terunda hilang dan proses dimasukkan kembali ke memori utama dan ready. Penjadwal jangka menengah mengendalikan transisi dari suspended-ready (dari keadaan suspend ke ready) proses-proses swapping.

Penjadwal Jangka Panjang
Penjadwal jangka panjang bekerja terhadap antrian batch dan memilih batch berikutnya yang harus dieksekusi. Batch biasanya adalah proses-proses dengan penggunaan sumber daya yang intensif (yaitu waktu proses, memori, perangkat I/O), program-program ini berprioritas rendah, digunakan sebagai pengisi (agar pemroses sibuk) selama periode aktivitas job-job interaktif rendah. Sasaran utama penjadwal jangka pangjang adalah memberi keseimbangan job-job campuran. Dikaitkan dengan state-state proses.

5.3 Strategi Pendjadwalan
Terdapat dua strategi penjadwalan, yaitu:
1. Penjadwalan nonpreemptive (run – to – completion)
2. Penjadwalan preemptive

Penjadwalan Nonpreemptive
Begitu proses diberi jatah waktu pemroses maka pemroses tidak dapat diambil alih oleh proses lain sampai proses itu selesai.

Penjadwalan Preemptive
Saat proses diberi jatah waktu pemroses maka pemroses dapat diambil alih proses lain sehingga proses disela sebelum selesai dan harus dilanjutkan menunggu jatah waktu pemroses tiba kembali pada proses itu.

Penjadwalan preemptive berguna pada sistem dimana proses-proses yang mendapat perhatian tanggapan pemroses secara cepat. Misalnya :
– Pada sistem waktu nyata, kehilangan interupsi (yaitu interupsi tidak segera dilayani) dapat berakibat fatal.
– Pada sistem interaktif/time-sharing, penjadwalan preemptive penting agar  dapat menjamin waktu tanggap yang memadai.

Penjadwalan preemptive bagus, tapi tidak tanpa ongkos. Perlaihan proses (yaitu proses beralih ke proses lain) memerlukan overhead (karena banyak tabel yang dikelola). Agar preemptive efektif, banyak proses harus berada di memori utama sehingga proses-proses tersebut dapat segera running begitu diperlukan. Menyimpan banyak proses tak running benar-benar di memori merupakan suatu overhead tersendiri.

5.4 Algoritma Penjadwalan
Terdapat banyak algoritma penjadwalan ,baik nonpreemptive maupun preemptive.
Algoritma-algoritma yang menerapkan strategi nonpreemptive diantaranya:
– FIFO (Frist In First Out)
– SJF (Shortest Job First)
– HRN (Highest Ratio Net)
– MFQ (Multiple Feedback Queues).
Algoritma-algoritma yang menerapkan strategi preemptive diantaranya:
– RR (Round Robin)
– SRF (Shortest remaining First)
– PS (Priority Schedulling)
– GS (Guaranteed Schedulle)

Penjadwalan Round Robin (RR)
Penjadwalan ini merupakan:
– Penjadwalan preemptive, buka dipreempt oleh proses lain tapi terutama oleh penjadwal berdasarkan lama waktu berjalannya proses, disebut preempt-by-time.
– Penjadwalan tanpa protes.

Semua Proses dianggap penting dan diberi sejumlah waktu pemroses yang disebut kwata (quantum) atau time slice dimana proses itu berjalan.

Ketentuan
Ketentuan algoritma round robin adalah sebagai berikut:
1.Jika kwanta habis dan proses belum selesai maka proses menjadi runable dan pemroses dialihkan ke poses lain.
2.Jika kwanta belum habis dan proses menunggu suatu kejadian (selesainya operasi I/O), maka proses menjadi blocked dan pemroses dialihkan ke proses lain.
3.Jika kwanta belum habis tapi proses telah selesai maka proses diakhiri dan pemroses dialihkan ke proses lain.

Algoritma penjadwalan ini dapat diimplementasi sebagai berikut:
– Mengelola senarai proses ready (runnable) seusai urutan kedatangan.
– Ambil proses yang berada diujung depan antrian menjadi running.
– Bila kwanta belum habis dan proses selesai maka ambil proses diujung depan antrian proses ready.
– Jika kwanta habis dan proses belum selesai maka tempatkan proses running ke ekor antrian proses ready dan ambil proses diujung depan antrian proses ready.

Masalah penjadwalan ini adalah menentukan besar kwanta, yaitu:
–  Kwanta terlalu besar menyebabkan waktu tanggap besar dan turn arround time rendah.
– Kwanta terlalu kecil mengakibatkan peralihan proses terlalu banyak sehingga menurunkan efesiensi pemroses.

Harus ditetapkan kwanta waktu yang optimal berdasar kebutuhan sistem terutama dari hasil percobaan atau data historis. Besar kwanta waktu beragam bergantung beban sistem.

Berdasarkan kriteria penilaian penjadwalan:
– Fairness
Penjadwalan RR adil bila dipandang dari persamaan pelayanan oleh pemroses.
– Efesiensi
Penjadwalan RR cenderung efesien pada sistem interaktif.
– Waktu tanggap
Penjadwalan RR memuaskan untuk sistem interaktif, tidak memakai untuk sistem waktu nyata.
– Turn Arround Time
Penjadwalan RR cukup bagus.
– Throughput
Penjadwalan RR cukup bagus.

Penggunaan:
– Cocok untuk sistem interaktif-time sharing dimana kebanyakan waktu dipergunakan menunggu kejadian eksternal. Contoh ; text-editor, kebanyakan waktu program adalah menunggu keyboard, hingga dijalankan proses-proses lain.
– Tidak cocok untuk sistem real-time.
  
Penjadwalana FIFO
Penjadwalan ini merupakan:
– Penjadwalana non-preemptive
– Penjadwalan tidak berprioritas
Ketentuan:
Penjadwalan FIFO adalah penjadwalan paling sederhana, yaitu:
– Proses-proses diberi jatah waktu pemroses berdasarkan waktu kedatangan.
– Begitu proses mendapat jatah waktu pemroses, proses dijalankan sampai selesai.

Penjadwalan ini dikatakan adil dalam arti resmi (dalam semantik/arti antrian, yaitu proses yang datangduluan, dilayani duluan juga), tapi dinyatakan tak adil karena job-job yang perlu waktu lama membuat job-job pendek menunggu. Job-job tak penting dapat membuat job-job penting menunggu.

FIFO jarang digunakan secara mandiri tapi dikombinasikan dengan skema lain, misalnya :
–keputusan berdasarkan prioritas proses. Untuk proses-proses berprioritas sama diputuskan berdasarkan FIFO.

Berdasarkan kriteria penilaian penjadwalan :
– Fairness
Penjadwalan FIFO adil bila dipandang dari semantik antrian.
– Efesiensi
Penjadwalan FIFO sangat efesien
– Waktu tanggap
Penjadwalan FIFO sangat jelek, tidak cocok untuk sistem interaktif apalagi waktu nyata.
– Turn arround time
Penjadwalan FIFO jelek
– Throughput
Penjadwalan FIFO jelek.

Penggunaan:
– Cocok untuk sistem batch yang sangat jarang interaksi dengan pemakai. Contoh aplikasi analisis numerik, pembuatan tabel.
– Penjadwalan ini sama sekali tak berguna untuk sistem interaktif karena tidak memberi waktu tanggap yang bagus.
– Tidak dapat digunakan untuk sistem waktu nyata.

Penjadwalan Berprioritas (PS)
Ide penjadwalan adalah tiap proses diberikan prioritas dan proses berprioritas tinggi running (mendapat jatah waktu proses).
Prioritas dapat diberikan secara :
– Prioritas statis
– Prioritas dinamis

Prioritas Statis
Prioritas statis berarti rioritas tak berubah
Keunggulan
– mudah diimplementasikan
– mempunyai overhead relatif kecil
Kelemahan
– Penjadwalan tak tanggap perbuhana lingkungan yang mungkin menghendaki penyesuaian prioritas.

Prioritas Dinamis
Prioritas dinamis merupakan mekanisme menanggapi perubahan lingkungan sistem beroperasi. Prioritas awal diberikan ke proses mungkin hanya berumur pendek setelah disesuaikan ke nilai yanglebih tepat sesuai lingkungan.

Kelemahan
Implementasi mekanisme prioritas dinamis lebih kompeks dan mempunyai overhead lebih besar. Overhead ini diimbangi dengan peningkatan daya tanggap sistem.

Contoh penjadwalan berprioritas
Proses-proses yang sangat banyak operasi I/O menghabiskan kebanyakan waktu menunggu selesainya operasi I/O. Proses-proses ini diberi prioritas sangat tinggi sehingga begitu proses memerlukan pemroses segera diberikan, proses akan segera memulai permintaan I/O berikutnya hingga mengakibatkan proses blocked menunggu selesainya operasi I/O. Dengan demikian pe mroses dapat dipergunakan proses-proses lain. Proses-proses I/O bound berjalan paralel bersama proses-proses lain yang benar-benar memerlukan pemroses, sementara proses-proses I/O bound itu menunggu selesainya operasi DMA.

Proses-proses yang sangat banyak operasi I/O kalau harus menuggu lama untuk memakai pemroses (karena prioritas rendah) hanya akan membebani meori karena harus disimpan tanpa perlu prosesproses itu dimemori karena tidak selesai-selesai menunggu operai I/O dan menunggu jatah pemroses.

Algoritma Prioritas Dinamis
Algoritma dituntun oleh keputusan untuk memenuhi kebijaksanaan tertentu yang menjadi tujuan.
Algoritma sederhana yang memberi layanan bagus adalah men-set prioritas dengan nilai 1/f dimana f adalah ratio kwanta terakhir yang digunakan proses.
– Proses yang menggunakan 2 msec kwanta 100 ms maka prioritasnya 50.
– Proses yang berjalan selama 50 ms sebelum blocked berprioritas 2.
– Proses yang menggunakan seluruh kwanta berprioritas 1.

Keunggulan Algoritma Penjadwalan Berprioritas
Biasanya memenuhi kebijaksanaan yang ingin mencapai maksimasi suatu kriteria diterapkan.

Kombinasi
Algoritma penjadwalan berprioritas dapat dikombinasikan yaitu mengelompokan proses-proses menjadi kelas-kelas prioritas. Penjadwalan berprioritas diterapkan antar kelas-kelas proses itu. Penjadwalan round-robin atau FIFO diterapkan pada proses-proses di satu kelas.

Penjadwalan dengan Banyak Antrian (MFQ)
Penjadwalan ini merupakan:
– Penjadwalan preemptive (by-time)
– Penjadwalan berprioritas dinamis.
Penjadwalan ini untuk mencegah banyaknya swapping dengan proses-proses yang sangat banyakmenggunakan pemroses (karena menyeelesaikan tugasnya memakan waktu lama) diberi jatah waktu (jumlah kwanta) lebih banyak dalam satu waktu.
Penjadwalan ini menghendaki kelas-kelas prioritas bagi proses-proses yang ada. Kelas tertinggi berjalan selama satu kwanta, kelas berikutnya berjalan selama dua kwanta, kelas berikutnya berjalan empat kwanta, dan seterusnya. Ketentuan yang berlaku adalah sebagai berikut:
– Jalankan proses pada kelas tertinggi
– Jika proses menggunakan seluruh kwanta yang dialokasikan maka diturunkan kelas prioritasnya.
– Proses yang masuk untuk pertama kali ke sistem langsung diberi kelas tertinggi.
Mekasnime ini dapat mencegah proses yang perlu berjalan lama swapping berkali-kali dan mencegah proses-proses interaktif yang singkat harus menunggu lama.

Penggunaan
Sistem dengan banyak proses lambat, memerlukan waktu dan juga terdapat banyak proses singkat.

Penjadwalan Terpendek, Duluan (SJF)
Penjadwalan ini merupakan :
– Penjadwalan non-preemptive
– Penjadwalan tak berprioritas
Penjadwalan ini mengasumsikan waktu jalan proses(sampai selesai) diketahui sebelumnya. Mekanisme penjadwalan adalah menjadwalkan proses dengan waktu jalan terpendek lebih dulu sampai selesai.
Penjadwalan mempunyai efesien tinggi dan turn arround time rendah.

Contoh : 
Terdapat empat proses A,B,C,D dengan jalam selama 8,7,6,5 kwanta.
Gambar 5.2a menunjukkan cara I, dengan proses-proses dijadwalkan berurutan sebagai A,B,C,D. Gambar 5.2b menunjukkan bila proses-proses dijadwalkan secara SJF yaitu berurutan B,C,D,A

Kedua cara menghasilkan turn arround time ditunjukan gambar 5.2c. Cara I trun arround time rata-rata adalah 17,5 kwanta sedang cara II adalah 15 kwanta.




Walaupun mempunyai turn arround yang bagus, SJF mempunyai yaitu:
– Tidak dapat mengetahui ukuran job saat job masuk
– Proses yang tidak datang bersamaan, sehingga penetapannya harus dinamis.
Untuk mengetahui ukuran job agar dapat ditetapkan yang terpendek biasanya dilakukan pendekatan. Pendekatan yang biasa dilakukan adalah membuat estimasi berdasar kelakuan sebelumnya.
Penggunaan
Jarang digunakan, merupakan kajian teoritis untuk pembandingan turn arround time.



1. berikut ini adalah alasan untuk putus jaringan menjadi dua segmen dengan router adalah .... a. untuk membuat domain broadcast sediki...